Tampilkan postingan dengan label Ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikan. Tampilkan semua postingan
13 Juli 2012

Cafe Ikan Bakar RASA SAYANGE

Bermula dari keluarnya mandat dari si papa untuk mengurangi konsumsi daging, saya pun sibuk mencari kira-kira kuliner ikan apa yang bersahabat dengan lidah. Saya pun teringat pada sebuah tempat makan yang sudah cukup lama tidak saya datangi. Bersama dengan partner se-per-makan-an, kembali saya mendatangi tempat tersebut. Namanya Cafe Ikan Bakar RASA SAYANGE Khas Indonesia Timur. First impress mendengar namanya, pikiran saya langsung mengarah ke wajah orang-orang timur, mulai dari yang masak sampai pengunjungnya. Tapi ternyata pengunjung ataupun yang masak ya bervariasi.

Dulunya cafe ikan bakar ini hanya berupa ruangan kecil, jadi jika ingin makan disana harus menerapkan sistem "siapa cepat, dia yang dapat". Nah mungkin karena inilah pada akhirnya owner cafe ikan bakar ini menambah satu ruangan lagi plus buka sampai jam 9 malam--dulu cuma sampai sore. 




Well dengan tidak sabar karena perut yang keroncongan, kami pun memesan ikan kembung dan kerapu bakar. Ada dua jenis ikan bakar disini, dibakar biasa--hanya diberi garam dan bawang putih--dan ikan bakar rica-rica. Variasi ikannya antara lain kerapu, kembung dan cakalang.

Pesanan pertama kami, kembung bakar biasa dan kerapu bakar biasa. Daging ikannya terasa 'manis' karena bener-bener fresh. Rasanya plain karena hanya diolesi air garam dan bawang putih *tapi enak*.




Ikan bakar ini disajikan bersama dengan sambal colo-colo, yaitu campuran dari irisan tomat hijau, bawang merah dan cabe rawit yang diberi sedikit garam dan air. Kebayang dong asem segernya. Bikin melek pokoknya.


Pengiring lainnya adalah oseng daun pepaya dan tumis kangkung




Orang Indonesia timur kebanyakan tidak menjadikan nasi sebagai bahan makanan pokok, sehingga karbohidrat mereka lebih bervariasi. Begitu juga di tempat makan ini, yang disajikan tidak hanya nasi, tapi ada kasbi (singkong rebus), pisang rebus, talas rebus dan papeda sebagai pengiring lauk. Well yang ngebuat kami penasaran dari zaman kuda sampai sekarang adalah papeda, jadi kami memesan papeda seporsi. Papeda merupakan tepung sagu yang dicampur dengan air, diaduk-aduk hingga menggumpal seperti lem--di mata saya. Rasanya ya gak ada, namanya juga tepung loh. Porsinya gede banget~




Papeda ini disantap bersama dengan ikan kuah kuning--ikan tongkol. Ini cucok nek. Ketika ikan kuah kuning dipasangkan dengan nasi, kuah ikan kuning yang tadinya asem-asem segar menjadi sedikit pahit. Berbeda jika dipasangkan dengan papeda. Asumsi kami adalah rasa manis dari nasi, berpadu dengan asam ikan kuah kuning-lah yang memunculkan rasa pahit, sementara papeda yang super plain memberikan rasa netral *gaya banget*. Nah biar seru, makannya langsung pake tangan ya, jangan pake sendok.


Ikan kuah kuning + papeda



Untuk harga, seporsi ikan bakar + nasi putih + sambal colo-colo + sayuran + teh/jeruk = Rp 20000
Untuk papeda dan ikan kuah kuning saya lupa dihargai berapa.

Siapa bilang ikan gak enak ? Ayo makan ikan !


12 Juli 2012

Ikan Sidat si Ikan Sehat

Beberapa bulan yang lalu salah satu stasiun tv swasta menayangkan kuliner ikan sidat. Ikan sidat ? Bagi beberapa orang--termasuk saya--memang nama ini terdengar baru. Ikan ini merupakan ikan air tawar yang sekilas bentuknya seperti belut. Sedikit menggelikan memang, tapi ikan ini mengandung banyak sekali gizi dan super super super baik untuk kesehatan. Untuk lebih jelas bisa dibaca di Sidat, Ikan Indonesia yang Banyak Dicari Orang Jepang. Selain mengandung banyak vitamin, ikan sidat ini juga enak loh. Rasanya kurang lebih seperti ikan patin, begitu pula teksturnya.

Rupa si Ikan Sidat



Sebenarnya di Jogja ada beberapa restoran yang menyajikan menu ikan sidat. Tapi yang namanya restoran tentu saja mematok harga lebih tinggi. Belum lagi harga ikan sidat ini tergolong mahal--wong ngembangbiakinnya susah. Nah hari ini saya berkesempatan untuk mencicipi ikan sidat di tempat makan yang direview oleh B*noe Boel*e. Harganya jauh lebih bersahabat untuk kantong mahasiswa. Tidak ada nama khusus untuk tempat makan ini. Hanya tertulis IKAN SIDAT pada spanduk merah. 

Lokasinya tidak jauh dari pasar Mlati, Sleman. Ancer-ancernya : masuk ke jalan kabupaten ke arah utara, lurus aja sampai mentok, setelah itu belok kiri. Lurus lagi sampai ketemu perempatan pasar Mlati, belok kanan. Terus aja sampai keliatan deretan ruko di sebelah kiri. Nah tempat makan ini ada di ruko pertama (lihat spanduk merah bertuliskan Ikan Sidat).


Ketika saya masuk, seorang ibu-ibu mengantarkan daftar menu. Tidak banyak menu yang disajikan di tempat makan ini. Hanya ada ikan sidat, ayam goreng, ikan gabus goreng, lalapan, nasi dan teh/jeruk. Untuk menu ikan sidat, anda bisa memilih ingin di rica-rica, dikukus atau digoreng--semuanya enak sih menurut saya. Setelah rebutan menu dengan pacar, saya pun memesan ikan sidat rica-rica super pedas *as usual*. Layaknya kuah rica-rica yang lain, rasanya sudah pasti pedas dan sedikit manis. Ikan sidatnya sendiri tidak digoreng terlalu kering, jadi masih lembut. Belum lagi kuah rica-ricanya meresap ke dalam ikan. Ini RECOMMENDED. Untuk menikmati si rica-rica ikan sidat, anda harus membayar 25000/porsi dimana setiap porsinya berisi 4 potong ikan sidat.


Menu yang kedua adalah ikan sidat kukus. Awalnya agak khawatir ketika memesan menu ini, karena takut bau amis. Tapi si ibu yang punya tempat makan hebat nih, ikannya gak amis sama sekali. Karena dikukus, daging ikan sidatnya jadi lembut banget. Kuahnya asin dan ada aroma bawang putih. Harganya 25000/porsi, seporsinya juga berisi 4 potong ikan sidat.



Karena seporsi ikan sidat ini terlalu mini untuk perut pacar, jadilah dia memesan ikan gabus/ikan haruan goreng. Rasanya gurih loh. Ikan gabus ini disajikan panas bersama dengan nasi putih, lalapan dan sambal yang pedas. Uh~ enak. Seporsinya berisi 2 potong ikan dan dihargai 19500/porsi.


Konon ikan sidat ini bisa mengobati berbagai macam penyakit. Nah bagaimana ? Anda tertarik ? 
2 Juli 2012

Mangut Lele Bu Is

Mangut lele ? Mungkin untuk beberapa orang makanan ini masih terdengar asing, terutama orang-orang yang tinggalnya di luar Jawa. Mangut lele berupa ikan lele yang dibakar--atau diasepin--sebentar kemudian dimasak kembali dengan kuah santan yang gurih. Makanan ini mengingatkan saya pada gulai ikan salai di sumatera, terutama kampung saya, Pekanbaru. Tapi rasanya tidak bisa dikatakan sama karena lele pada makanan ini dagingnya masih bertekstur lembut, sedangkan ikan salai memiliki tekstur daging yang cukup keras karena mengalami proses pengasapan yang cukup lama.

Mangut lele Bu Is ini sudah ada sejak tahun 1979. Jadi gak mengherankan kalo banyak pengunjung sekaliber orang tua kita, bahkan kakek nenek kita. Ketika saya tiba di lokasi, warung terlihat sepi karena memang sudah hampir magrib. Pengunjung bisa memilih ingin duduk lesehan di dalam rumah atau duduk di kursi kayu yang letaknya di luar ruangan. Saya pun memilih untuk duduk di dalam rumah karena khawatir dengan debu dan asap kendaraan. Letak warung mangut lele ini memang di tepi jalan, deketan sama traffic light lagi.

Ancer-ancernya--kalo saya--belok kiri ke arah Tembi, lurus terus sampe ketemu traffic light pertama belok kanan, lurus lagi nah sebelum traffic light kedua liat aja di sebelah kiri ada rumah dengan cat warna hijau yang halaman rumahnya luas, maka sampailah anda di TKP.


Tidak perlu menunggu lama, 3 orang ibu-ibu mengantarkan beberapa jenis makanan ke meja saya. 


Keliatannya sayur semua kan ? Tapi hati-hati karena ternyata salah satu dari piring yang ijo-ijo di atas itu, ada yang 100% cabe ijo gede. Buat yang gak doyan pedes ya ngap-ngapan lah. Mangut lele disajikan bersama nasi putih, timun yang diiris, parutan kelapa yang dicampur dengan cabe dan gula (ini enak bangeeeet), cabe ijo besar yang dioseng, sambal dan beberapa sayuran rebus seperti daun pepaya, kenikir, bayam serta tauge sebagai pelengkap.


Nah ini dia artisnya, si mangut lele. Bisa diliat dari warna kuahnya kalo mangut lele ini kaya akan rempah. Daging lele nya sangat lembut dan tidak ada bau amis. Kuahnya encer namun gurih.


Kalo ini another sambalnya. Cabe dicampur dengan gula jawa, sedikit terasi dan petis. Ini gak pedes dan cenderung manis dengan rasa petis yang lumayan menusuk.


This is my favourite. Singkong yang dimasak dengan gula jawa--kalo di daerah saya mah gula merah jadinya manis banget--tapi ini sangat pas. Singkongnya lembut dengan gula jawa di sana sini. So delish !


Untuk harga, makanan sebanyak itu + air putih anget dan teh manis anget cuma 27ribu loh. Rinciannya begini, 1 mangut + sambel + sayuran = 10rb, sisanya additional


 

Blog Template by BloggerCandy.com